TUGAS KHUSUS 3 KRIPTOGRAFI & STEGANOGRAFI : WATERMARKING & DATA ENCRYPTION STANDARD (DES)
WATERMARKING & DATA ENCRYPTION STANDARD (DES)
WATERMARKING
Secara hierarkis, watermarking
merupakan suatu proses yang berakar pada konsep ilmu
steganography. Steganography
sendiri sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno. Menurut
Cachin dalam, steganography
diartikan sebagai suatu seni dan ilmu untuk
menyembunyikan pesan yang
sebenarnya sehingga orang awam tidak dapat mendeteksinya.
Menurut Popa dalam,
steganography dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu
protection against detection
(data hiding) dan protection against removal (document
marking). Watermarking
merupakan salah satu jenis dari document marking.
Steganography juga digunakan
selama perang dunia kedua, antara lain untuk mengirim
pesan-pesan rahasia agar tidak
diketahui oleh musuh. Sebagai contoh, seorang mata-mata
German pernah mengirimkan pesan
“Apparently neutral’s protest is thoroughly
discounted and ignored. Isman
hard hit. Blockade issue affects for pretext embargo on
by-products, ejecting suets and
vegetable oils.” Rangkaian pesan tersebut ternyata
memiliki pesan tersembunyi yang
akan terlihat dengan mengambil huruf kedua dari tiap kata.
Pesan sebenarnya adalah
“Pershing sails for NY June 1”.
Perkembangan dunia internet
yang memungkinkan semua bentuk media dapat
menyebar dengan mudah,
mendorong pembuat dokumen multimedia untuk menambahkan
suatu tanda di dalam dokumen
multimedia yang dibuat. Tanda (marking) yang ditambahnya
umumnya berupa identitas atau
copyright dari dokumen tersebut
gambar asli akan
di-encode dengan menambahkan
gambar rahasia dan kunci tertentu. Gambar yang sudah di-encode, selanjutnya
dapat
ditransfer melalui suatu jalur komunikasi dan jika akan diperiksa keasliannya
atau ingin
mendapatkan gambar aslinya, maka dilakukan proses decoder.
Proses decoder key (kunci)
yang sama dengan kunci pada proses encode.
teknik digital
watermarking dapat diaplikasikan dalam berbagai hal, antara lain:
1.Ownership Assertion. Kepemilikan dari dokumen multimedia dapat
dilindungi dengan
menambahkan watermark yang berisi informasi pemilik dari
dokumen multimedia.
Pemilik juga dapat mempublikasikan dokumen multimedia yang sudah
disisipi
watermark dengan aman tanpa harus mempublikasikan
dokumen multimedia yang asli.
Jika terjadi terjadi klaim dari orang lain mengenai
dokumen multimedia tersebut, tentu
dapat diketahui secara otentik siapa pemilik sebenarnya.
2. Fingerprinting. Watermarking dan fingerprinting pada
dasarnya sama, hanya saja pada
fingerprinting, penyisipan watermark biasanya bersifat unik untuk
suatu dokumen
multimedia. Dokumen multimedia yang sama dapat
memiliki fingerprint yang berbeda.
3. Copy prevention or
control. Teknik watermarking juga dapat dilakukan untuk mencegah
dokumen multimedia untuk diduplikasi
dengan hardware atau software tertentu.
Misalnya untuk mencegah suatu dokumen multimedia yang tersimpan
dalam CD atau
DVD agar tidak diduplikasi dengan CD atau DVD
copier
4. Fraud and tamper
detection. Watermarking juga dapat digunakan untuk mendeteksi
adanya pembajakan terhadap suatu dokumen digital.
5. ID card security. Informasi berupa passport atau ID juga dapat
disertakan sebagai
watermark ke dalam foto orang yang bersangkutan, sehingga jika suatu saat
dokumen
seperti passport dimanipulasi oleh orang lain dengan mengganti fotonya maka
dapat
dideteksi.
Teknik-teknik Watermarking terhadap
Berbagai Bentuk Multimedia
Setiap bentuk dan jenis multimedia memiliki katakteristik tersendiri
sehingga dalam
proses watermarking juga memiliki teknik yang berbeda-beda. Namun
secara umum, teknik
watermarking yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
• Imperceptibility. Secara kasat mata manusia, antara media asli dan media
yang sudah
disisipi watermark harus tidak dapat dibedakan.
• Trustworthiness. Watermark harus dapat menjamin kepemilikan
asli dari media tersebut,
artinya watermark harus sulit untuk dipalsukan.
• Robustness. Watermark yang dihasilkan harus tangguh dan tahan
terhadap perubahan
yang terjadi pada media.
Berikut ini
teknik-teknik watermarking untuk jenis media text, image, audio
dan video.
1. Text Watermarking
Proses watermarking terhadap dokumen teks sebenarnya telah dilakukan
di dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mencetak dokumen teks pada media khusus
seperti
kertas segel. Namun untuk melakukan watermarking pada teks yang
tersimpan dalam
dokumen digital, teknik yang dilakukan tidaklah sama. Berikut ini beberapa
teknik
watermarking terhadap teks.
• Line Shift Coding Protocol
Teknik watermarking ini dilakukan dengan mengurangi jarak antar teks
dari sisi baris.
Jarak yang dikurangi tersebut dibuat sekecil mungkin (misalnya 1/300 inch)
sehingga
tidak akan terdeteksi oleh mata telanjang, namun dapat dideteksi dengan mudah
dengan
komputer.
• Word Shift Coding Protocol
Word Shift Coding Protocol pada dasarnya sama dengan teknik Line
Shift Coding
Protocol, hanya saja yang dikurangi bukan spasi antar baris, namun spasi antar
kata
(word).
• White Space Manipulation
• Text Content
2. Image Watermarking
Watermarking terhadap gambar (image) paling banyak dilakukan untuk
melindungi
gambar seperti foto. Saat ini cukup banyak teknik maupun
algoritma watermarking terhadap
gambar yang ditawarkan. Beberapa diantaranya sebagai berikut:
• Simple Watermarking
Teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana
dimana watermarking dilakukan
dengan menambahkan gambar atau teks tertentu pada gambar asli. Dan untuk
mendapatkan gambar asli kembali, watermark yang ditambahkan dapat
dibuang
dengan teknik, tool dan keahlian tertentu.
• Least Significant Bit
Hiding (Image Hiding)
metode LSB (Least Significant Bit) merupakan salah satu metode watermarking yang
bekerja dalam mode warna RGB (Red, Green, Blue). Metode ini bekerja dengan
cara menyisipkan informasi pada bit-bit paling kanan dari setiap elemen RGB.
Perubahan bit paling kanan hanya menimbulkan perubahan nilai RGB sebesar 1
dari 256 warna yang ada. Perubahan tersebut tidak dapat dideteksi dengan mata
telanjang. Namun dengan komputer, misalnya menggunakan metode Enhanced LSB,
dapat dideteksi dengan mudah apakah gambar mengandung watermark atau tidak.
Metode LSB mudah untuk dideteksi karena penyisipan informasi
dilakukan secara langsung dalam bit-bit dokumen tanpa melalui proses
pengacakan.
• Hue Saturation Lightness (HSL)
Metode watermarking dengan HSL pada dasarnya mirip dengan
metode LSB. Metode
HSL bekerja pada mode warna HSL sedangkan
metode LSB bekerja pada mode RGB.
Evan dalam mencoba memanfaatkan metode HSL ini untuk melakukan
watermarking pada citra bitmap. Hasilnya metode HSL lebih
baik dibanding metode
LSB.
• Discrete Cosine Transformation
(DCT)
Sebelum dilakukan encoding, gambar asli dibagi terlebih dahulu menjadi
beberapa
bagian, misalnya matriks 8 x 8. Algoritma dalam teknik DCT ini selain
digunakan
untuk menyembunyikan informasi, juga digunakan untuk melakukan kompresi
terhadap gambar, terutama yang bertipe JPEG. Menurut [14],
teknik DCT memiliki
kelebihan dalam optimasi dan kecepatannya.
• Discrete Wavelet Transformation (DWT)
Teknik ini merupakan teknik yang lebih efektif dibanding DCT, dimana
memiliki
tingkat kompresi yang lebih tingg
• Independent Component Analysis (ICA)
Dijelaskan mengenai prinsip dasar independent component analysis
(ICA) dan penerapannya dalam signal processing. Saat ini ICA juga
diterapkan dalam
teknik watermarking, misalnya dalam algoritma ICA diterapkan dalam blok
dari
host image dan watermark image. didiskusikan mengenai penerapan
blind content based watermarking dengan memanfaatkan konsep ICA dan DCT.
Hasilnya jauh lebih baik dan akurat dibanding teknik tanpa ICA, akan tetapi memiliki
kelemahan dalam hal kecepatannya.
• Singular Value Decomposition (SVD)
Pemanfaatan teknik SVD dalam watermarking miliki Teknik ini dapat
digunakan untuk melakukan autentifikasi citra berdasarkan nilai
korelasi watermark
yang di-ekstrak. Teknik ini cukup robust terhadap beberapa pengolahan
citra.
• Spread Spectrum Watermarking
Metode spread spectrum watermarking melakukan penyisipan dan
pendeteksian
watermark dalam ranah transform. Mula-mula citra ditransformasikan ke
dalam
ranah frekuensi, lalu bit watermark disisipkan pada koefisien
transformasi (misalnya
koefisien DCT, FFT, DWT). Metode ini lebih robust terhadap gangguan
atau
serangan seperti kompresi, cropping dan low pass filtering
3. Sound Watermarking
Selain untuk dokumen berupa image, teknik Spread Spectrum juga
dapat diterapkan di
dokumen multimedia jenis audio. Teknik Spread
Spectrum merupakan teknik yang cukup
populer saat ini. Pesan yang akan disampaikan dianggap sebagai
sinyal narrowband bukan
sinyal wideband. Teknik yang digunakan dalam Spread
Spectrum adalah dengan
menyebarkan bit-bit watermark di atas saluran frekuensi rendah.
4. Video Watermarking
Watermarking terhadap
dokumen multimedia berupa video dapat melibatkan beberapa
teknik watermarking, misalnya watermarking terhadap gambar dan
suara. Dalam melakukan
watermarking terhadap video, beberapa hal perlu diperhatikan
yaitu robustness terhadap
kompresi, perubahan geometris maupun pemotongan frame, kebenaran
pengkodean frame
tanpa visual artefact dan harus memperhatikan runtime atau
performa kecepatan dari video
yang dihasilkan. Beberapa contoh algoritma yang dapat diterapkan
dalam video watermarking antara lain algoritma Zhao Koch dan
algoritma Fridrich. algoritma Zhao Koch memiliki kelebihan jika diterapkan
pada video jenis MPEG sementara algoritma Fridrich
memiliki keuntungan karena dapat menyisipkan lebih banyak
informasi.













Comments
Post a Comment